Jumat, 17 Juni 2011

Belajar Dari Sebuah Jam

TERJADI dialog antara pembuat jam dengan jam yang sedang dibuatnya. Pembuat jam berkata, “Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak sebanyak 31.536.000 (Tiga puluh satu juta lima ratus tiga puluh enam ribu) kali dalam setahun?”,

jam itu tersentak, “Enggak mungkinlah saya berdetak sebanyak itu!?”


“Baiklah, bagaimana kalau 86.400 (delapan puluh enam ribu empat ratus) kali dalam sehari?” tawar pembuat jam.


“Delapan puluh enam ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang kecil-kecil begini?” jawab jam penuh keraguan.


“Kalau begitu cukup berdetak 3.600 (tiga ribu enam ratus) kali dalam satu jam, pasti kamu sanggup!” pinta si pembuat jam lagi.


“Sepertinya saya masih belum sanggup berdetak sebanyak itu dalam sejam.” Jam masih saja bimbang dengan kemampuannya.


Akhirnya si pembuat jam berkata, “Sudahlah, sanggupkah kamu berdetak satu kali saja setiap detik?” Jam itu sontak menjawab, “Naah, kalau cuma sekali sedetik sih aku sanggup, kapan aku mulai bekerja?”. “Sekarang!”, seru pembuat jam.


Setelah selesai dibuat, jam itu pun berdetak satu kali setiap detik. Lalu berdetak terus sampai 3.600 kali dalan satu jam. Berlanjut lagi sampai 86.400 kali dalam sehari. Dan tanpa terasa jam itu telah berdetak 31.536.000 kali dalam setahun.


Hikmah dan Pelajaran

Belajar dari jam, kadangkala kita ragu terhadap tugas dan pekerjaan yang kita anggap terlalu berat untuk dilakukan, padahal kita belum mencobanya. Karena itu jangan pernah berkata ‘tidak bisa’ terhadap setiap pekerjaan yang kita anggap berat dan sulit. Sebenarnya kita hanya butuh keberanian untuk mencoba, selanjutnya semua berjalan dan mengalir seperti air.


Banyak gagasan dan pekerjaan besar yang terasa berat untuk dimulai. Maka cobalah memulai dari hal yang kecil dan ringan. Kemudian mulailah membangun sistem dan mekanisme kerja yang baik agar segala sesuatunya berjalan dengan maksimal dan agar keberhasilan itu juga berguna bagi orang-orang di sekitar kita.


Bagaimana caranya untuk memulai? Ya sudah, mulai saja. Bahasa kerennya, start action!

Kisah Seekor Belalang

Seekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya tersebut. Dengan gembira ia melompat-lompat menikmati kebebasannya.

Di perjalanan dia bertemu dengan seekor belalang lain. Namun dia keheranan mengapa belalang itu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya.

Dengan penasaran ia menghampiri belalang itu, dan bertanya, “Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh, padahal kita tidak jauh berbeda dari usia ataupun bentuk tubuh?”.

Belalang itu pun menjawabnya dengan pertanyaan, “Dimanakah kau selama ini tinggal? Karena semua belalang yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan”.

Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.

Renungan :
Kadang-kadang kita sebagai manusia, tanpa sadar, pernah juga mengalami hal yang sama dengan belalang.

Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan yang beruntun, perkataan teman atau pendapat tetangga, seolah membuat kita terkurung dalam kotak semu yang membatasi semua kelebihan kita.

Lebih sering kita mempercayai mentah-mentah apapun yang mereka voniskan kepada kita
tanpa pernah berpikir benarkah Anda separah itu? Bahkan lebih buruk lagi, kita lebih memilih mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri.

Tidakkah Anda pernah mempertanyakan kepada nurani bahwa Anda bisa “melompat lebih tinggi dan lebih jauh” kalau Anda mau menyingkirkan “kotak” itu? Tidakkah Anda ingin membebaskan diri agar Anda bisa mencapai sesuatu yang selama ini Anda anggap diluar batas kemampuan Anda?

Beruntung sebagai manusia kita dibekali Tuhan kemampuan untuk berjuang, tidak hanya menyerah begitu saja pada apa yang kita alami. Karena itu teman, teruslah berusaha mencapai
apapun yang Anda ingin capai. Sakit memang, lelah memang, tapi bila Anda sudah sampai di puncak, semua pengorbanan itu pasti akan terbayar.

Kehidupan Anda akan lebih baik kalau hidup dengan cara hidup pilihan Anda. Bukan cara hidup seperti yang mereka pilihkan untuk Anda.

Manusia Terpendek Dunia, Tinggi Cuma 59cm


KOMPAS.com — Seorang remaja 18 tahun asal Filipina dinobatkan sebagai orang terpendek di dunia, Minggu (12/6/2011). Junrey Balawing, putra seorang pandai besi yang miskin, hanya setinggi 59,93 cm.

Pertumbuhan anak sulung yang dilahirkan di kota kecil Sindangan, Pulau Mindanao Selatan, itu berhenti sejak dia masih anak-anak. Namun, ketiga adiknya tumbuh normal.

"Secara resmi dia kini bergelar manusia terpendek di dunia," ujar Craig Glenday dari Guinness Book of World Records, yang mengukur tinggi Junrey di hadapan kerabat dan warga desanya. Mereka menyambut pengumuman tersebut dengan sorak-sorai.

Rekor sebelumnya dipegang oleh Khagendra Thapa Magar dari Nepal yang tingginya 66 cm.

"Terima kasih sudah mendukung putra saya, orang terpendek di dunia," kata ayah Junrey, Reynaldo Balawing.

Junrey kemudian meniup lilin pada sebuah kue yang dibuat khusus untuknya, sebelum berbicara kepada para penonton. "Kapoy (saya lelah)," katanya dengan suaranya yang kecil.

Acara pengukuran resmi oleh pihak Guinness itu disaksikan banyak orang, termasuk politisi. Mereka kemudian memberinya sejumlah uang, yang menurut orangtuanya akan ditabung.

Ayah Junrey selalu yakin putra sulungnya itu adalah anak yang istimewa. Katanya, sejak kecil Junrey sakit-sakitan dan tubuhnya tidak bisa tumbuh lagi sejak berumur dua tahun. Namun, dokter di desa mereka tidak tahu penyebabnya.

Menurut sang ibu, Conception, Junrey sulit berjalan sehingga harus dibantu. Sementara pamannya, Paulino Empag, yang juga kepala desa, mengatakan bahwa teman-teman dan keluarga mereka sangat protektif terhadap Junrey. Bahkan ada yang menganggap kondisi Junrey sebagai "jimat keberuntungan" bagi warga desa.

"Dia anak yang istimewa. Dia sulit berbicara dan berdiri, tetapi dia menjadi berkat bagi keluarga dan masyarakatnya," kata Empag.

Setelah pengumuman resmi Guinness, menurut Empag, keluarganya kembali ke desa mereka dan merayakan ulang tahun Junrey.

"Kami sudah menyiapkan mi dan daging. Kami sangat bahagia untuknya," ujar Empag.

Sumber : kompas.com