Minggu, 08 Mei 2011

Malioboro Yogyakarta


News Session - Malioboro Membentang di atas sumbu imajiner yang menghubungkan Kraton Yogyakarta, Tugu dan puncak Gunung Merapi, jalan ini terbentuk menjadi suatu lokalitas perdagangan setelah Sri Sultan Hamengku Buwono I mengembangkan sarana perdagangan melalui sebuah pasar tradisional semenjak tahun 1758. Setelah berlalu 248 tahun, tempat itu masih bertahan sebagai suatu kawasan perdagangan bahkan menjadi salah satu ikon Yogyakarta yang dikenal dengan Malioboro.

Terletak sekitar 800 meter dari Kraton Yogyakarta, tempat ini dulunya dipenuhi dengan karangan bunga setiap kali Kraton melaksanakan perayaan. Malioboro yang dalam bahasa sansekerta berarti "karangan bunga" menjadi dasar penamaan jalan tersebut.

Diapit pertokoan, perkantoran, rumah makan, hotel berbintang dan bangunan bersejarah, jalan yang dulunya sempat menjadi basis perjuangan saat agresi militer Belanda ke-2 pada tahun 1948 juga pernah menjadi lahan pengembaraan para seniman yang tergabung dalam komunitas Persada Studi Klub (PSK) pimpinan seniman Umbul Landu Paranggi semenjak tahun 1970-an hingga sekitar tahun 1990.

Cepat atau lambat setiap pengunjung atau turis yang berada di Jogja pasti akan mengunjungi Malioboro, sebuah ruas jalan di tengah kota yang sarat dengan penjual beragam souvenir dan makanan yang disajikan lesehan dimalam hari. Kapan anda terakhir ke Malioboro? Menelusuri ruas jalan ini setelah tidak berkunjung selama beberapa tahun sepertinya membangunkan kenangan tersendiri yang menyenangkan.

Suasana Malioboro seakan tidak berubah dari tahun ke tahun, penjaja souvenir, lesehan, pengamen, tukang becak, andong, masih tetap sama. Dari sisi tampilan kota, mungkin yang sedikit berubah sekarang adalah adanya beberapa halte Trans Jogja

Malioboro juga menawarkan beragam hiburan dan merupakan ruang terbuka murah bagi masyarakat Jogja. Sekelompok anak muda tampak melakukan atraksi kebolehan berakrobat menggunakan sepeda-sepeda mereka dan sebuah acara Band tampak cukup ramai menyedot perhatian anak muda Jogja.

Disudut lain, menghabiskan sebagian malam di Malioboro tetap menawarkan suasana santai yang dapat menurunkan “ritme” tubuh yang sehari-hari sibuk dengan beragam kegiatan. Sambil ditemani hangatnya wedang Jahe atau makan lesehan, menghabiskan sebagian malam di Malioboro tetap menawarkan suasana santai khas Jogja yang menyenangkan.

Surga Cinderamata

Menikmati pengalaman berbelanja, berburu cinderamata khas Jogja, wisatawan bisa berjalan kaki sepanjang bahu jalan yang berkoridor (arcade). Di sini akan ditemui banyak pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya. Mulai dari produk kerajinan lokal seperti batik, hiasan rotan, wayang kulit, kerajinan bambu (gantungan kunci, lampu hias dan lain sebagainya) juga blangkon (topi khas Jawa/Jogja) serta barang-barang perak, hingga pedagang yang menjual pernak pernik umum yang banyak ditemui di tempat perdagangan lain. Sepanjang arcade, wisatawan selain bisa berbelanja dengan tenang dalam kondisi cerah maupun hujan, juga bisa menikmati pengalaman belanja yang menyenangkan saat menawar harga. Jika beruntung, bisa berkurang sepertiga atau bahkan separohnya.

Jangan lupa untuk menyisakan sedikit tenaga. Masih ada pasar tradisional yang harus dikunjungi. Di tempat yang dikenal dengan Pasar Beringharjo, selain wisatawan bisa menjumpai barang-barang sejenis yang dijual di sepanjang arcade, pasar ini menyediakan beraneka produk tradisional yang lebih lengkap. Selain produk lokal Jogja, juga tersedia produk daerah tetangga seperti batik Pekalongan atau batik Solo. Mencari batik tulis atau batik print, atau sekedar mencari tirai penghias jendela dengan motif unik serta sprei indah bermotif batik. Tempat ini akan memuaskan hasrat berbelanja barang-barang unik dengan harga yang lebih murah.

Berbelanja di kawasan Malioboro serta Beringharjo, pastikan tidak tertipu dengan harga yang ditawarkan. Biasanya para penjual menaikkan harga dari biasanya bagi para wisatawan.

0 komentar:

Posting Komentar